Traktiran Ulang Tahun


SEORANG PEMUDA BERUSIA dua puluhan tahun, berwajah bersih, dan berkemeja rapi, duduk sendirian menghadapi meja yang telah diisi oleh belasan pasang alat makan. Belasan kursi pula telah ditata melingkari meja. Warna putih gading meja tersebut agak tersamarkan oleh lampu kekuningan yang menggantung di atap restoran. Alunan musik pop terdengar dari speaker yang terpasang di beberapa sudut, bersaing dengan riuh rendah obrolan orang-orang.

Pemuda tersebut sengaja datang lima belas menit lebih awal mengingat kedudukannya sebagai pengundang. Segalanya berawal dari ucapan ulang tahun yang terus menerus didapatkannya dari para sahabatnya sejak kemarin melalui group chatting maupun media sosial. Banyak diantara mereka yang Lanjutkan membaca “Traktiran Ulang Tahun”

Iklan

Titik Balik


Catatan ini sejatinya sudah terpikirkan sejak tiga minggu yang lalu tapi baru sempat kutulis sekarang karena kesibukan akhir-akhir ini. Sebenarnya “sibuk” bukanlah kata yang tepat. Toh tidak ada orang yang benar-benar sibuk di dunia ini. Yang ada adalah orang yang memiliki waktu tapi menggunakannya untuk hal-hal lain.

Sekarang aku jadi lupa. Dulu aku sebenarnya mau menulis apa, ya?

Dari sedikit yang kuingat, aku berencana memberi judul tulisan ini Titik Balik dan melampirinya dengan foto yang kuambil tiga minggu lalu. Arti dari judul itu sendiri adalah…. aku lupa. Sepertinya tentang momen-momen hari raya kemarin.

Sudah 6 tahun aku meninggalkan SMA dengan tidak begitu gemilang. Tahun kemarin, aku akhirnya kembali untuk mengikuti acara halal bi halal lintas angkatan. Tahun ini, karena beban tugas dari kampus, aku kembali lagi ke SMA. Bukan hanya sehari, tapi tiga hari berturut-turut. Bukan saat sepi, tapi malah saat ada halalbihalal seluruh guru dan halalbihalal organisasi yang dulu kutinggalkan. Nasib akhirnya membawaku bertemu kembali dengan seorang guru yang dulu sempat kukecewakan, dan nasib juga yang mempertemukanku dengan dua orang teman yang pernah satu organisasi. Tapi bukan nasib yang membawaku ke warung siomay di depan sekolah. Itu pilihanku sendiri untuk menghabiskan waktu dan merenungi tahun-tahun yang telah lewat. Dulu warung ini merupakan favorit anak-anak sekolahku. Suatu kali, di hari Jumat, seseorang pernah mengirimiku SMS:

“Nggak ingin ke warung siomay? Temen-temenmu pada di sini.”

Pada masa-masa suram itu kujawab: “Aku nggak punya teman.”

Seseorang itu lalu menyebut satu per satu nama teman yang hadir di warung. “Mereka bukan temenmu?” Aku tidak menjawab lagi. Kadang-kadang, jika sedang mengenang tahun-tahun yang telah lewat, aku merasa menyesal.

Nasib yang lain, membawaku bertemu dengan dua orang teman masa kecil di masjid sebelum salat Jumat. Selama ini aku jarang bertemu dengan teman-teman sedesa karena jalan hidup kami lumayan jauh berbeda. Tapi ternyata kami masih bisa mengobrol dengan bebas ketika bertemu singkat waktu itu, jauh dari prasangkaku sebelumnya.

Sepertinya nasib juga membawaku pada peristiwa yang lain, tapi sayang sekali aku lupa. Yang jelas, segala peristiwa itu membawaku pada perenungan-perenungan dan introspeksi diri. Seperti halnya penyesalan, introspeksi selalu dilakukan belakangan. Setidaknya lebih baik daripada terus menyalahkan tanpa melakukan introspeksi.

Mungkin benar kata seorang penyair: “Nasib adalah kesunyian masing-masing.”

Setelah semua urusanku di SMA kuselesaikan, dalam perjalanan pulang, aku sempat memperhatikan pepohonan yang meranggas seperti sedang musim gugur. Kebetulan juga langit sedang biru. Kuhentikan laju sepeda motor dan mengambil foto, lalu mendadak teringat salah satu lagunya Adhitia Sofyan.

As I walk to the end of the line
I wonder if I should look back

Judulnya Blue Sky Collapse. Karena kemampuan bahasa Inggrisku yang terbatas, aku kurang bisa mengerti maksud pada bagian:

… you’ll find me
Hanging on to the place
Where the big blue sky collapse

Mungkinkah yang dimaksud adalah tempat seperti saat kuambil foto itu?

Ketidakberdayaan


Ibuku berulang tahun, dan aku berada ratusan kilometer jauhnya dari rumah. Entah kenapa diriku sesentimental ini. Padahal, biasanya aku menganggap bahwa ulang tahun adalah hal yang biasa. Tahun-tahun sebelumnya juga aku biasa saja. Tapi tahun ini… entah kenapa aku merasa sedih karena tidak dapat pulang.

Dua bulan terakhir ini benar-benar penuh tekanan dan kesibukan. Aku ingat, saat liburan bulan Januari lalu, aku berencana untuk mengirimkan beberapa naskah novel ke perlombaan dan menyelesaikan beberapa cerpen. Tapi kenyataannya cerpen-cerpen itu Lanjutkan membaca “Ketidakberdayaan”

Pergantian Musim


cinta pergi seperti hari terakhir di musim kemarau

pancaroba datang dengan hati yang berubah tak tentu

antara rela dan harap, keduanya sama-sama berujung sakit

badai, hujan, dan angin yang bertiup kencang

laron terbang mencari tempat terang

tanpa menyadari sayap-sayapnya yang terlepas

lalu terjatuh ke dalam baskom air

dan tewas

 

(2019)

Catatan Perjalanan: Semarang-Surabaya


Entah di mana, aku pernah membaca kalimat yang kurang lebih begini: Sekali dalam setahun, kunjungilah tempat yang belum pernah kamu kunjungi sebelumnya. Di lain kesempatan aku juga menemukan tagar #TraveltoHeal. Tapi mengesampingkan pembahasan mengenai hal-hal tersebut, sudah menjadi rencanaku untuk mengunjungi satu per satu kota di Jawa. Rencana ini kugagas pada tahun 2017 dan telah kukunjungi Purwakarta dan Bandung pada tahun yang sama. Kemudian, rencana tersebut terhenti karena masalah finansial, kurangnya waktu luang, dan ada kepentingan mendesak untuk fokus pada hal lain.

Akhirnya rencana ini kumulai lagi pada tahun 2019 ini. Kali ini Semarang dan Surabaya, meskipun kota yang terakhir ini hanyalah sekadar singgah. Meskipun aku berangkat sendirian dan ke mana-mana sendirian, namun tidak tepat jika kusebut solo traveler sebab Lanjutkan membaca “Catatan Perjalanan: Semarang-Surabaya”