Kucing Pincang di Terminal


Puguh terbangun dari tidur karena merasakan ada sesuatu yang mengelus-elus kakinya. Ia masih mengantuk. Akhir-akhir ini ia mudah sekali merasa mengantuk. Dilongokkannya kepalanya sehingga dapat melihat Aan yang sedang tiduran sambil memainkan ekor di samping kaki Puguh.

Kucing itu pasti sedang lapar, pikir Puguh. Tapi sayang sekali Puguh sedang Continue reading “Kucing Pincang di Terminal”

Iklan

Tentang Surga


Bayu mengangkat kepalanya ketika adzan magrib terdengar sayup-sayup dari suatu tempat. Langit telah berubah warna, dan matahari ternyata sudah hilang di balik hutan di seberang sawah.

“Dapat banyak, Yu?” Seruan Pendik terdengar lebih dulu sebelum derak langkah kakinya dan kemunculan sosoknya dari balik timbunan sampah.

“Lumayan.” Bayu mengangkat karungnya dan berjalan menuruni tumpukan sampah.

“Cuma botol?”

“Biasa.”

“Aku dapat ini!” Pendik memamerkan cengirannya sambil mengangkat sebuah benda berbentuk Continue reading “Tentang Surga”

Kisah Si Apatis


Sebelum menjadi orang yang acuh dan apatis, Padel adalah seseorang yang terlalu peka dan gampang terbawa perasaan. Dari kasta sosial, Padel termasuk golongan atas. Ia sudah mapan sebelum berusia tiga puluh, menjadi karyawan tetap di perusahaan multinasional, dan tinggal apartemen di wilayah Jakarta Selatan. Gaya hidupnya dapat ditebak: sering ke mall, makan di restoran Amerika, dan bisa menghabiskan seratus ribu rupiah hanya untuk Continue reading “Kisah Si Apatis”

Acuh


ingin kuserukan rindu
tapi kau tidak akan percaya

ingin kunyanyikan lagu
dengan seribu larik
dan kutuliskan puisi
dengan sejuta bait
semuanya hanya untukmu
tapi kau tidak akan percaya

ingin kupindahkan gunung
ingin kukeringkan samudra
ingin kuhentikan badai
ingin kubuktikan semuanya
tapi kau tidak akan percaya

ingin kubangunkan seribu candi
dengan stupa menjulang tinggi
arca-arca tak tertandingi
untukmu dalam semalam
tapi kau tidak akan percaya

ingin kukatakan cinta
tapi kau tidak akan percaya

kau tidak akan pernah percaya

Wejangan Pamungkas


Di padepokannya yang sunyi di atas bukit, Ki Ajir menerima tujuh orang muridnya yang datang menghadap. Tujuh orang murid ini telah menyerap semua ilmu yang ia berikan dan telah ia nyatakan siap untuk dilepas menuju kota besar. Sekarang tujuh murid ini datang untuk berpamitan sekaligus meminta wejangan pamungkas dari sang guru yang sangat mereka hormati.

“Di sana kalian akan menemui banyak musuh,” ujar Ki Ajir, tatapan matanya menerawang Continue reading “Wejangan Pamungkas”