Kenapa Blog Ini Jarang Update?


Memang benar blog ini sudah lama kutelantarkan. Atas hal itu, aku punya beberapa alasan:

Alasan pertama: aku punya kesibukan lain saat ini. Meskipun bisa dibilang bahwa sibuk itu hanyalah masalah manajemen waktu, tetapi ingin kukatakan bahwa aku benar-benar punya hal lain yang kuprioritaskan. Sejak akhir 2018, aku melanjutkan kuliah lagi di jenjang D-III, dan ketika membuat postingan blog ini, aku sedang dilanda kesulitan dalam penyusunan tugas akhir.

Alasan kedua: kehidupan baru. Bergantinya fase kehidupan selalu membawa kehidupan baru. Blog ini mulai rutin kuisi sejak aku mulai bekerja, dan mulai kutinggalkan sejak aku persiapan lanjut kuliah. Dimulai satu bulan dari sekarang, fase kehidupanku akan berganti lagi dan lagi dan lagi. Nasib blog ini kemudian? Entahlah.

Alasan ketiga: hadirnya media sosial lain. Menurut opiniku pribadi, eksistensi blog sudah mulai terhapus. Media sosial seperti Facebook yang mampu menampung tulisan panjang, Instagram yang enak dipandang, dan Twitter dengan berbagai thread di dalamnya, rasanya lebih dekat dengan pembaca. Belum lagi semakin maraknya konten Youtube dan Tiktok.

Alasan keempat: minimnya pembaca. Mungkin aku salah ya, tetapi memang rasanya interaksi di blog ini cukup sepi. Jarang ada komentar. Tulisan yang paling laku selama ini tentang kehidupan kantor. Tetapi, aku tidak bisa menulis tentang itu karena jika salah, aku bisa dianggap melanggar kode etik.

Alasan kelima: malas mengetik. Mungkin inilah alasan sebenarnya. Bukan hanya pada blog, tetapi aku juga sudah jarang update sesuatu di Facebook. Menulis novel apalagi.

Alasan keenam: karena pengunjung tertentu. Mungkin ini alasan tambahan. Yang anehnya mungkin malah ironis dengan alasan keempat. Jadi, beberapa orang di dunia nyata pernah beberapa kali membahas isi blogku dalam konteks mengejek. Terus terang hal itu membuatku tidak nyaman. Seseorang yang lain, mungkin ada yang sedang memata-mataiku melalui blog ini. Tapi, entahlah.

Sekian alasan yang bisa kusampaikan meskipun sebenarnya tidak ada yang menanyakan. Mungkin suatu saat aku akan kembali menulis.

Rumah Kaca


kita terperangkap dalam rumah kaca
ketika hujan pertama tiba

segalanya memburam seperti lukisan abstrak
ditelan air yang merayap turun di dinding
tak ada lagi dunia di luar sana
hanya kita yang tersisa
disaksikan oleh bantal-bantal kursi
segelas teh hangat di atas meja
dan lampu yang memendarkan kerinduan

di luar dingin, Sayang
tapi di dalam sini tak ada percik air
yang mampu menjangkau kita

 

Tangerang Selatan, 24 Oktober 2019
mengenang hujan pertama: 8 Oktober 2019

Senja dari Jendela Kereta


image

selain garis-garis jingga
kenangan pun melekat di jendela
bersama getar tanpa jeda

kursi kosong di sebelahku
telah menjelma sosokmu
yang dipesan oleh rindu

stasiun-stasiun memberangkatkan sepi
mendentangkan lonceng pengabar pergi
tanpa menyebut namamu lagi

seirama derak gerbong dan gesekan logam
pertemuan hanyalah decitan
lelatu dalam ingatan

baris lampu kereta yang terang
menampakkan wajahmu dalam butiran
tak henti-henti berjatuhan

tapi tak ada apa-apa lagi
sebab kehilangan adalah kaca sunyi
memantulkan buram wajah sendiri

(2017)

 

*puisi ini dulu dibuat dalam rangka kegiatan rutin komunitas Kelas Puisi

Traktiran Ulang Tahun


SEORANG PEMUDA BERUSIA dua puluhan tahun, berwajah bersih, dan berkemeja rapi, duduk sendirian menghadapi meja yang telah diisi oleh belasan pasang alat makan. Belasan kursi pula telah ditata melingkari meja. Warna putih gading meja tersebut agak tersamarkan oleh lampu kekuningan yang menggantung di atap restoran. Alunan musik pop terdengar dari speaker yang terpasang di beberapa sudut, bersaing dengan riuh rendah obrolan orang-orang.

Pemuda tersebut sengaja datang lima belas menit lebih awal mengingat kedudukannya sebagai pengundang. Segalanya berawal dari ucapan ulang tahun yang terus menerus didapatkannya dari para sahabatnya sejak kemarin melalui group chatting maupun media sosial. Banyak diantara mereka yang Lanjutkan membaca “Traktiran Ulang Tahun”

Titik Balik


Catatan ini sejatinya sudah terpikirkan sejak tiga minggu yang lalu tapi baru sempat kutulis sekarang karena kesibukan akhir-akhir ini. Sebenarnya “sibuk” bukanlah kata yang tepat. Toh tidak ada orang yang benar-benar sibuk di dunia ini. Yang ada adalah orang yang memiliki waktu tapi menggunakannya untuk hal-hal lain.

Sekarang aku jadi lupa. Dulu aku sebenarnya mau menulis apa, ya?

Dari sedikit yang kuingat, aku berencana memberi judul tulisan ini Titik Balik dan melampirinya dengan foto yang kuambil tiga minggu lalu. Arti dari judul itu sendiri adalah…. aku lupa. Sepertinya tentang momen-momen hari raya kemarin.

Sudah 6 tahun aku meninggalkan SMA dengan tidak begitu gemilang. Tahun kemarin, aku akhirnya kembali untuk mengikuti acara halal bi halal lintas angkatan. Tahun ini, karena beban tugas dari kampus, aku kembali lagi ke SMA. Bukan hanya sehari, tapi tiga hari berturut-turut. Bukan saat sepi, tapi malah saat ada halalbihalal seluruh guru dan halalbihalal organisasi yang dulu kutinggalkan. Nasib akhirnya membawaku bertemu kembali dengan seorang guru yang dulu sempat kukecewakan, dan nasib juga yang mempertemukanku dengan dua orang teman yang pernah satu organisasi. Tapi bukan nasib yang membawaku ke warung siomay di depan sekolah. Itu pilihanku sendiri untuk menghabiskan waktu dan merenungi tahun-tahun yang telah lewat. Dulu warung ini merupakan favorit anak-anak sekolahku. Suatu kali, di hari Jumat, seseorang pernah mengirimiku SMS:

“Nggak ingin ke warung siomay? Temen-temenmu pada di sini.”

Pada masa-masa suram itu kujawab: “Aku nggak punya teman.”

Seseorang itu lalu menyebut satu per satu nama teman yang hadir di warung. “Mereka bukan temenmu?” Aku tidak menjawab lagi. Kadang-kadang, jika sedang mengenang tahun-tahun yang telah lewat, aku merasa menyesal.

Nasib yang lain, membawaku bertemu dengan dua orang teman masa kecil di masjid sebelum salat Jumat. Selama ini aku jarang bertemu dengan teman-teman sedesa karena jalan hidup kami lumayan jauh berbeda. Tapi ternyata kami masih bisa mengobrol dengan bebas ketika bertemu singkat waktu itu, jauh dari prasangkaku sebelumnya.

Sepertinya nasib juga membawaku pada peristiwa yang lain, tapi sayang sekali aku lupa. Yang jelas, segala peristiwa itu membawaku pada perenungan-perenungan dan introspeksi diri. Seperti halnya penyesalan, introspeksi selalu dilakukan belakangan. Setidaknya lebih baik daripada terus menyalahkan tanpa melakukan introspeksi.

Mungkin benar kata seorang penyair: “Nasib adalah kesunyian masing-masing.”

Setelah semua urusanku di SMA kuselesaikan, dalam perjalanan pulang, aku sempat memperhatikan pepohonan yang meranggas seperti sedang musim gugur. Kebetulan juga langit sedang biru. Kuhentikan laju sepeda motor dan mengambil foto, lalu mendadak teringat salah satu lagunya Adhitia Sofyan.

As I walk to the end of the line
I wonder if I should look back

Judulnya Blue Sky Collapse. Karena kemampuan bahasa Inggrisku yang terbatas, aku kurang bisa mengerti maksud pada bagian:

… you’ll find me
Hanging on to the place
Where the big blue sky collapse

Mungkinkah yang dimaksud adalah tempat seperti saat kuambil foto itu?